Header Ad Banner

Tuesday, January 3, 2017

Memahami Kesulitan Anak Dalam Belajar

Kesulitan belajar pada anak akan muncul apabila anak mengalami kesukaran dalam memahami isi buku pelajaran, membaca, berhitung (Matematika), menulis, dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Sulit belajar diduga disebabkan tidak berfungsinya system syaraf pusat atau factor-faktor psikologis. Pada kasus lain, anak-anak mengalami kesulitan belajar tidak mengalami kelainan dalam intelegensinya, karena mereka mempunyai intelegensi di atas rata-rata, namun mempunyai kesulitan dalam pelajaran tertentu.

Kesulitan belajar banyak disebabkan oleh beberapa factor, yaitu tidak berfungsinya saraf, gangguan penglihatan, pendengaran, gangguan persepsi, gangguan perhatian atau maslah ingatan. Atau bisa juga kombinasi dari factor-faktor tersebut dan factor-faktor psikologis seperti rasa bosan, marah, sedih, jengkel, cemas dan lain-lain.kesulitan belajar pada anak

Selain itu masalah sulit belajar juga bisa disebabkan anak tidak dapat melakukan sesuatu secara maksimal. Misalnya tidak bisa mencatat dengan baik karena posisi duduk dikelas tidak nyaman. Ini merupakan sebab dari factor eksternal. Sedangkan factor internal penyebab sulit belajar adalah motivasi, sikap, minat, persepsi (cara berpikir ataupun berpendapat), malas belajar pada anak dan sebagainya.

Bila gangguan-gangguan tersebut tidak dapat diatasi,kemungkinan penyebabnya adalah faktor-faktor khusus yaitu adanya gangguan pada proses belajar yang semakin berat bila tidak dibantu dengan pengajaran khusu, yaitu mengikuti privat pelajaran tertentu. Namun bila anak memiliki gangguan perilaku atau emosi yang menimbulkan kesulitan belajar, maka diperlukan intervensi dari ahli-ahli tertentu misal guru les privat ke rumah, dokter anak, psikiater, psikolog, terapis dan sebagainya. Penanganan problem belajar sangat membutuhkan penanganan yang serius, hati-hati serta bijaksana, dan membutuhkan perencanaan dan bantuan serta kerjasama yang baik antara guru dengan orangtua, serta para ahli seperti dokter, paedagog, atau psikolog agar problem dapat diatasi sejak awal.

Contoh kesulitan belajar adalah :

Kesulitan membaca, yaitu kesulitan atau ketidakmampuan mengenal huruf, anak tidak dapat menyambung suku kata, atau penglihatannya kurang baik.

Kesulitan belajar menghitung (diskalkulia), yaitu kesulitan melaksanakan tugas-tugas berhitung dan gangguan yang berhubungan dengan pemahaman dan penerapan konsep-konsep matematika. Dari penelitian di Amerika diperoleh hasil bahwa banyak siswa kelas 3-4 dan 5-6 SD mengalami kesulitan dengan bilangan pecahan, decimal, persen, dan pengukuran. Kondisi ini disebabkan siswa kurang memahami arti symbol, salah menghitung atau menentukan hasil akhir dari suatu hitungan.

Gangguan pemusatan perhatian (rentang perhatian pendek), yaitu gangguan perhatian yang mudah teralih dam mempunyau aktivitas fisik yang sangat tinggi, sehingga tidak bisa memusatkan perhatian dan sulit berkonsentrasi. Padahal supaya berhasil disekolah, siswa harus mengenali dan menjaga pikirannya agar sejalan dengan tugas-tugas yang diberikan guru, dan harus mampu untuk segera mengalihkan perhatiannya pada mata pelajaran baru, bila mata pelajaran yang lain sudah berlalu. Gangguan pemusatan perhatian dapat menimbulkan kelainan tingkah laku. Misalnya sulit membedakan kanan dan kiri, sulit memahami dan merespon tugas ganda, sulit memahami bentuk-bentuk geometris, dan sulit menangkap instruksi karena siswa kurang konsentrasi sehingga kurang memahami perintah tersebut. Pada umumnya, yang banyak mengalami gangguan ini anak laki-laki dan perempuan yang ditentukan oleh kromosom Y. Penyebab gangguan ini adalah adanya kelainan syaraf otak. Gangguan ini dapat diatasi dengan obat-obatan dan psikoterapi.

Motivasi belajar rendah, yaitu contoh kasus anak yang mempunyai hasil tes IQ diatas rata-rata atau rata-rata, namun prestasi belajarnya disekolah rendah. Berdasarkan suatu penelitian bahwa sangat sedikit anak yang menunjukkan prestasi yang sama dengan kecerdasannya. Pada kenyataannya kesenjangan antara prestasi dan potensi itu selalu ada. Dikatakan bahwa 14-15 % anak mengalami gejala underachiever , anak laki-laki lebih banyak mengalami hal ini bila dibandingkan dengan anak perempuan. Gejala ini muncul ketika anak usia 6 tahun dan mulai terlibat kompetisi. Penyebab underachiever anak (prestasi tidak sesuai dengan potensi ) :

  • Orangtua menuntut terlalu tinggi atau perfectsionist, kondisi orangtua/lingkungan yang demikian menyebabkan anak kurang termotovasi untuk menyelesaikan tugasnya, sebagai cara untuk balas dendam pada orangtua yang dirasakannya telah bersikap tidak adil, kaku, otoriter dan sok berkuasa.
  • Orangtua tidak/kurang memperhatikan prestasi anak.
  • Orangtua bersikap permisif (serba membolehkan).
  • Konflik keluarga yang serius
  • Orangtua terlalu melindungi
  • Orang tua terlalu sering mengkritik (tidak menerima anak)
  • Adanya problem perkembangan (kurang matang secara fisik, social dan psikologis).
Pencegahannya sebagai berikut :

  1. Menerima anak dengan apa adanya, atau bersifat konsisten. Tidak menuntut anak diluar kemampuannya. Memberikan penghargaan pada anak atas usaha belajarnya yang sudah maksimal, terlepas ia berhasil atau gagal, dan mendengarkan apa yang disuarakan anak. Tidak melecehkan atau bersikap kasar pada anak.
  2. Ajari anak dan beri contoh untuk belajar aktif dan memecahkan masalah.
  3. Berikan imbalan bila anak menunjukkan prestasi belajar.
  4. Membuat target belajar anak dengan disesuaikan kondisi kemampuan anak.
Penanganannya :
  1. Ajari anak startegi membangkitkan motovasi. Orangtua , guru membuat kontrak dengan anak mengenai tugas anak, berapa lama akan diselesaikan, dan apa imbalannya. Ajari pula anak untuk memberikan imbalan kepada dirinya sendiri. Misalnya setelah selesai mengerjakan PR, ia boleh makan makanan kesukaannya, melihat pertandingan sepakbola atau bermain dengan temannya.
  2. Mengevaluasi kontrak-kontrak (perjanjian) tersebut supaya orangtua/guru mengetahui kekuatan-kekuatan dan kelemahan anak, sehingga orangtua dan anak dapat menetapkan target yang nyata supaya prestasi anak dapat optimal.
Pembolos
Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :
  • Biasanya pulang ke rumah pada jam-jam sekolah, sehingga perilakunya tidak diketahui orangtuanya. Orangtua akan tahu anaknya bolos sekolah bila ada laporan dari guru disekolah.
  • Pembolos sering merasa sendiri dan gelisah, tidak mampu bersikap social dan tidak mampu menekuni apapun. Sesuatu yang diinginkannya adalah cara terbaik untuk lari dari ketegangan di rumah ( hukuman yang keras dan penolakan dirinya terhadap aturan atau perintah guru/orangtua), lari dari masalah, menghibur diri sendiri, mencari teman yang juga haus kesenangan dan menghindarkan diri dari rasa bosan, depresi dan keputusasaan.
 Penanganannya :
  • Menunjukkan pada anak bila orangtua/guru tidak mendukung kebiasaannya membolos. Mengatakan prinsip anda (sebagai orangtua/guru) bahwa kehadiran anak disekolah adalah tanggungjawab siswa (pribadi). Tidak ada gunanya menyalahkan guru, sekolah atau orangtua.
  • Orangtua/guru harus mampu meyakinkan siswa bahwa sekolah adalah wajib, penting dan berguna.
  • Pendirian orangtua/guru harus terbukti sebagai tindakan yang tegas dan konsisten.
  • Jalinlah hubungan yang erat dengan sekolah maupun guru les ke rumah, sehingga orangtua bisa memantau anaknya melalui gurunya. Hubungan yang baik dengan guru akan memberikan informasi sejak awal bila ada yang tidak beres pada anak disekolah.
  • Simak suara anak, dari suaranya anda bisa tahu dan mengira-ira apakah ia berbohong atau tidak.
  • Dorong dan beri anak kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya ataupun konflik-konflik yang mungkin dirasakannya sampai ia merasa lega.
  • Cari jalan keluar dengan mengatasinya sendiri, meminta bantuan guru atau ahli lainnya.
  • Beri anak motivasi dengan mengatakan secara terbuka apa imbalannya, kalau ia masih sekolah terus, dan apa hukumannya kalau ia tidak masuk sekolah. Buatlah perjanjian yang jelas, karena cara ini sering bisa membantu.